Ev. Renatus Siburian, Perintis Gerakan Pentakosta di Tanah Batak yang Melahirkan Gereja Pentakosta Indonesia

Editor: Admin

Tabloid Rhema; Pematangsiantar
— Dalam perjalanan sejarah Kekristenan di Indonesia, nama Rev. Pdt. Evangelis Renatus Siburian menempati posisi yang penting sebagai salah satu pelopor gerakan Pentakosta di Tanah Batak sekaligus tokoh yang merintis lahirnya Gereja Pentakosta Indonesia (GPI). Di tengah keterbatasan zaman kolonial, pendudukan Jepang, hingga masa awal kemerdekaan, ia mengabdikan hidupnya untuk memberitakan Injil dan membangun jemaat yang kemudian berkembang menjadi salah satu denominasi Pentakosta terbesar di Indonesia.

Lahir di Paranginan, Kabupaten Tapanuli Utara, pada 19 Oktober 1914, Renatus Siburian merupakan anak keenam dari tujuh bersaudara. Sejak usia muda ia dikenal memiliki kerinduan yang besar terhadap kehidupan rohani. Panggilan itu kemudian membawanya meninggalkan kehidupan sebagai pegawai perusahaan demi mengabdikan seluruh hidupnya dalam pelayanan.

Pertobatan yang Mengubah Arah Hidup

Pada periode 1931–1935, Renatus Siburian bekerja di perusahaan NKPM di Palembang. Di kota inilah ia mengalami pertobatan yang menjadi titik balik kehidupannya. Di bawah bimbingan Pendeta Siwi, ia bertumbuh dalam iman dan aktif melayani di gereja.

Merasa dipanggil menjadi penginjil, pada tahun 1935 ia mengambil keputusan besar: meninggalkan pekerjaannya dan berangkat ke Surabaya untuk belajar di Sekolah Alkitab Jalan Embong Malang yang dipimpin Pendeta W. Patterson. Pendidikan teologi tersebut diselesaikannya pada akhir 1936.

Setahun kemudian, ia diangkat sebagai Evangelis Hof Bestuur De Pinster Kerk untuk wilayah Sumatera Utara dan mulai memasuki ladang pelayanan yang kelak mengubah sejarah gereja Pentakosta di kawasan itu.

Menginjil di Tengah Tekanan Pemerintah Kolonial

Pelayanan Renatus Siburian menjangkau berbagai daerah, mulai dari Tanah Karo, Berastagi, Medan, Kisaran, Asahan, Labuhanbatu hingga Balige.

Namun, perjalanan itu tidak berlangsung tanpa tantangan. Pemerintah kolonial Belanda beberapa kali menghentikan aktivitas penginjilannya karena belum diterbitkannya izin resmi (besluit) dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda.

Meski menghadapi pembatasan, ia tidak menghentikan pelayanannya. Sambil menjadi guru agama di Gereja HCB (Huria Christian Batak) di Kisaran, ia terus melakukan penginjilan dari kampung ke kampung dengan semangat yang tidak pernah surut.

Merintis Gerakan Pentakosta di Tanah Batak

Sekitar 1936–1938, Renatus Siburian mulai mengembangkan pelayanan Pentakosta secara mandiri di wilayah Tapanuli. Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) digelar di lapangan terbuka, pasar, hingga tepian sungai.

Pelayanan tersebut mendapat sambutan luas. Ribuan orang memberikan respons terhadap pemberitaan Injil dan menerima baptisan air. Dalam satu pelayanan baptisan, jumlah peserta dilaporkan dapat mencapai 100 hingga 1.200 orang, sehingga pelaksanaan baptisan sering dibantu oleh 4 hingga 12 orang pendeta.

Tidak sedikit masyarakat yang awalnya datang hanya untuk menyaksikan prosesi baptisan akhirnya memutuskan menerima Kristus dan ikut dibaptis.

Lahirnya Gereja Pentakosta Indonesia

Seiring bertambahnya jumlah jemaat, pada 1942 Renatus Siburian mendirikan organisasi gereja bernama Gereja Pentakosta Tanah Batak Tapanuli. Berdirinya organisasi tersebut berlangsung pada masa transisi pemerintahan Hindia Belanda menuju pendudukan Jepang.

Menurut berbagai catatan sejarah internal GPI, organisasi ini berdiri secara independen dan tidak berafiliasi dengan organisasi Pentakosta lain yang telah ada saat itu.

Perkembangan pelayanan yang semakin luas mendorong perubahan nama menjadi Gereja Pentakosta Sumatera Utara (GPSU) melalui Sinode tahun 1944.

Empat tahun kemudian, dalam Sinode yang berlangsung di Balige pada 1948, diputuskan perubahan nama menjadi Gereja Pentakosta Indonesia (GPI), nama yang terus digunakan hingga kini.

Setelah Indonesia merdeka, organisasi tersebut kembali didaftarkan kepada Pemerintah Republik Indonesia dan memperoleh pengesahan dari Kementerian Kehakiman serta Kementerian Agama pada 1950. Saat ini pusat sinode GPI berkedudukan di Pematangsiantar, Sumatera Utara.

Menghadapi Penolakan dan Penganiayaan

Perjalanan pelayanan Renatus Siburian juga diwarnai berbagai ujian.

Pada masa pendudukan Jepang, ia pernah ditangkap karena aktivitas penginjilannya. Di berbagai daerah, ia juga menghadapi penolakan dari sebagian masyarakat yang menganggap pola ibadah Pentakosta berbeda dengan tradisi gereja yang telah lebih dahulu berkembang.

Bahkan muncul sebutan "Agama Siburian", sebuah tuduhan yang lahir dari kesalahpahaman terhadap pelayanan yang dilakukannya. Meski demikian, Renatus Siburian tetap melayani dengan rendah hati tanpa pernah membangun kultus pribadi.

Pengorbanan Seorang Hamba Tuhan

Di balik pertumbuhan pelayanan yang luar biasa, tersimpan kisah pengorbanan yang menyentuh.

Bersama istrinya, Ibu boru Siahaan, Renatus Siburian dikaruniai sembilan orang anak. Namun, lima di antaranya meninggal dunia ketika masih bayi atau kanak-kanak.

Karena sedang melakukan pelayanan di berbagai daerah terpencil, ia beberapa kali tidak sempat berada di rumah ketika anak-anaknya mengembuskan napas terakhir. Kisah itu menjadi salah satu gambaran nyata tentang harga yang harus dibayar demi panggilan pelayanan yang diyakininya.

Warisan yang Terus Hidup

Renatus Siburian dikenal sebagai sosok sederhana, disiplin, tegas, dan rendah hati. Ketika didorong untuk menulis autobiografi, ia menolaknya seraya berkata:

"Segala apa yang saya kerjakan sudah tercatat seluruhnya di sorga."

Kalimat itu menjadi cerminan kehidupan yang dijalaninya: melayani tanpa mengejar popularitas atau penghormatan pribadi.

Setelah ia berpulang pada 20 Juni 1987 dalam usia 72 tahun, estafet pelayanan diteruskan oleh generasi berikutnya. Salah satu putranya, Rev. Dr. M.H. Siburian, M.Min., kemudian dipercaya memimpin Gereja Pentakosta Indonesia sebagai Ketua Umum Majelis Pusat/Ketua Sinode.

Nama Renatus Siburian juga diabadikan sebagai nama Institut Agama Kristen Renatus (IAKR) di Pematangsiantar sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan dedikasinya bagi dunia pelayanan.

Prosesi pemakamannya dihadiri lebih dari 12.000 orang, sementara ribuan pelayat datang silih berganti selama empat hari untuk memberikan penghormatan terakhir kepada tokoh yang dikenang sebagai salah satu perintis gerakan Pentakosta di Tanah Batak. df/Tr
Share:
Komentar

Berita Terkini

 
Desain: indotema.com