Ketika Publik Meninggalkan Zona Diamnya

Editor: Admin

 


Oleh: Bishop Dikson Panjaitan, STh.,M.Div

Ketua Majelis Pusat Sinode GLKRI

Ada saatnya publik memilih diam.

Dan ada saatnya diam menjadi sebuah Gerakan Moral yang hanya menunggu Ledakan ini yang bahaya. 

Apa yang terjadi hari ini di Sumatera Utara bukan sekadar kontroversi biasa. Ini adalah titik di mana sebagian masyarakat merasa batas itu telah disentuh—bahkan mungkin dilampaui.

Ketika pernyataan yang dilontarkan oleh tokoh sekelas Jusuf Kalla dianggap melukai keyakinan, maka reaksi bukan lagi pilihan—ia menjadi keharusan.

Laporan ke Polda Sumut bukan sekadar langkah hukum. Ini adalah pesan keras:

bahwa ruang publik tidak boleh menjadi tempat bebas untuk menyentuh hal-hal paling sensitif tanpa tanggung jawab.

Aliansi Masyarakat Sipil Sumatera Utara telah mengambil sikap. Mereka tidak memilih diam. Mereka tidak menunggu reda. Mereka bergerak.

Dan gerakan itu lahir dari satu hal yang paling mendasar:

Yaitu harga diri keyakinan.

Namun, perlawanan ini juga membawa kita pada pertanyaan yang lebih dalam dan lebih tajam—

apakah bangsa ini sedang bergerak menuju kedewasaan, atau justru menuju saling curiga yang tak berujung?

Sebab ketika satu pihak merasa diserang, dan pihak lain merasa disalahpahami, maka ruang dialog mengecil—digantikan oleh tekanan, reaksi, dan eskalasi.

Di titik ini, semua pihak diuji.

Tokoh publik diuji untuk lebih berhati-hati.

Masyarakat diuji untuk tetap rasional di tengah emosi.

Dan negara diuji untuk berdiri adil di antara semua kepentingan.

Yang jelas, satu hal sudah berubah:

publik hari ini tidak lagi pasif.

Mereka mencatat.

Mereka menilai.

Dan ketika merasa perlu—mereka melawan.

Kasus yang menyeret nama Jusuf Kalla ini adalah sinyal keras bahwa kepercayaan publik bukan sesuatu yang bisa dianggap remeh.

Jika kata-kata bisa melukai, maka respons adalah bentuk penyembuhan.

Tapi ini bukan sekedar kata-kata, ini sangat sensitif dan Sakral sehingga akan membangkitkan keterpanggilan bagi para umat Kristen yang akan membangkitkan pemantik  adrenalin untuk mengadakan perlawanan. Ini bukan soal politik atau sekedar kata-kata yang bisa dipermainkan, Mengatakan "Kristen juga kalo membunuh dan mematikan islam juga Syahid" Ini sangat menodai prinsip dan hakikat Kekristenan itu sendiri karena sangat berbanding terbalik dengan ajaran Yesus Kristus yang mengajarkan Cinta Kasih, dan Pengampunan. Ada beberapa pesan dari Yesus untuk semua orang bukan hanya Kristen saja. 

1. Kasihilah Musuhmu kalo dia lapar berilah ia makan dan kalau ia haus berikan ia minum

2. Berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu dan berkatilah mereka 

3. Kalau ditampar pipi kiri berilah juga pipi kananmu

4. Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri 

Dan ada banyak lagi ayat Alkitab ajaran Yesus tentang kasih, dan tidak ada disana diajarkan membunuh sekalipun musuh. 

Jadi dalam hal ini pernyataan pak Jusuf Kalla sangat provokatif dan bohong karena tidak ada ajaran Yesus demikian. 

Jika pernyataan pak Jusuf Kalla bisa memicu kegaduhan, maka perlawanan adalah upaya mengembalikan keseimbangan. 

Namun satu peringatan penting tidak boleh diabaikan:

perlawanan tanpa kendali bisa berubah menjadi perpecahan.

Dan ketika itu terjadi, tidak ada yang benar-benar menang.

Tapi perlawanan apabila disertai sebuah keyakinan dan ketulusan maka itu akan menjadi perlawanan ideologi yang hidup dan menjadi sejarah dimasa depan, sehingga menjadi tugu pengingat bahwa hal ini jangan pernah disentuh lagi, terlalu beresiko. 

Oalah Tahe....Alani baba ni halak par jahat maloha ma Huta. 

Gara-gara mulut orang fasik maka rusaklah bangsa. 

Soi jaga Ho Babam...Botul maho Sibagur Tano


Share:
Komentar

Berita Terkini

 
Desain: indotema.com