MEDAN – Rhema.id ; Bishop Dikson Panjaitan sangat menyayangkan Pernyataan kedua Pendeta ini, Pdt John dan Pdt Rinaldi Damanik karena terkesan ngawur dan lari dari substansi Ceramah JK di Mesjid UGM yang menimbulkan kegaduhan di seantero NKRI ini, Respons Pendeta John Ruhulessin dan Pendeta Rinaldi Damanik terhadap pernyataan kontroversial Jusuf Kalla (JK) justru menuai kritik pedas. Banyak pihak menilai penjelasan kedua tokoh ini sama sekali tidak menyentuh substansi dan justru berpotensi membenarkan kekerasan atas nama agama. hal ini kembali hangat dan mengemuka seusai pertemuan di Hotel JS Luwansa, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (21/4/2026) dengan para tokoh dalam perdamaian peristiwa ambon dan poso.
Inti masalah yang memicu kemarahan publik adalah pernyataan JK yang menyebutkan bahwa saat konflik Ambon dan Poso, kedua-duanya baik islam maupun Kristen : "orang Kristen membunuh orang Islam itu syahid, dan orang Islam membunuh orang Kristen itu syahid."
Alih-alih meluruskan kesalahan fatal dalam narasi tersebut, kedua pendeta justru terlihat berputar-putar dan hanya menekankan bahwa "agama disalahgunakan". Pertanyaannya: Di mana penegasannya bahwa ajaran Kristen sama sekali tidak mengenal konsep "syahid" dalam arti membunuh orang lain demi masuk surga?
Lalu kedua orang ini kan pendeta atau pemuka agama, lalu siapa yang menyalahgunakan ajaran agama itu ? Kata bishop Dikson dengan tegas.
Logika yang Pincang
Pernyataan mereka yang mengatakan "kita dulu punya keyakinan keliru bahwa berkonflik akan membawa ke surga" Ini sangat berbahaya. Kalimat ini secara tidak langsung mengonfirmasi dan membenarkan kerangka berpikir yang dipaparkan JK. Seolah-olah memang benar bahwa pada saat itu, orang Kristen berperang dengan motivasi religius yang sama dengan pemahaman "syahid" tersebut.
Padahal, substansi yang seharusnya diluruskan adalah:
1. Konsep Syahid adalah istilah dan teologi khusus dalam Islam yang tidak ada dalam ajaran Kristen.
2. Tidak ada doktrin dalam kekristenan yang mengajarkan bahwa membunuh sesama manusia akan memberikan status suci atau jaminan masuk surga. Apalagi membunuh orang islam.
3. Konflik yang terjadi bermula dari masalah sosial, politik, dan ekonomi, yang kemudian dipecah belah, bukan murni karena kesalahpahaman doktrin agama semata.
Sebagai tokoh gereja yang dihormati dan pelaku sejarah, seharusnya mereka memiliki keberanian untuk berkata tegas: "Salah jika dikatakan kami membunuh karena menganggap itu syahid. Itu adalah kekerasan, bukan ibadah." Apalagi sampe minta maaf bolak-balik dan mengatakan...."bahwa ini, apa yang kami pahami waktu itu adalah ajaran yang salah, harus kembali keajaran yang benar" mohon maaf jawaban Anda sedang mengklarifikasi dan mengakui bahwa Anda dulu di penjara dengan tuduhan Pada tanggal 16 Juni 2003, Rinaldy Damanik dijatuhi hukuman tiga tahun penjara karena kepemilikan senjata ilegal?
Sayangnya, jawaban mereka justru terkesan mencla-mencle dan membiarkan narasi keliru itu terus beredar. Membiarkan opini bahwa "orang Kristen membunuh demi syahid" sama saja dengan menghina korban jiwa dan merusak wajah agama itu sendiri.
Masyarakat menunggu klarifikasi yang lebih tegas. Kebenaran sejarah tidak bisa dikompromikan demi menjaga hubungan baik dengan siapa pun. Jika fakta dilunakkan, maka luka masa lalu tidak akan pernah sembuh, dan potensi perpecahan justru makin terbuka lebar.
Jadi Tolong Pdt Rinaldi Damanik apalagi, anda adalah mantan ketua Sinode GKST tentulah memiliki pengaruh diantara umat, jangan buat statement yang menjadi bom waktu bagi generasi muda bangsa khususnya yang beragama Kristen. Karena kalo Pdt Rinaldi sesuai pengakuannya sudah kembali ke ajaran yang benar, bagaimana Kristen lainnya? Apakah semua sudah kembali?
Pak JK bilang Pdt Damanik dulu adalah komandannya di Poso dan anda berkata terimakasih. Walau di pengadilan anda tidak mengakui. Kata bishop Dikson Panjaitan kesal. r.id

