Ketika Suara Kenabian berubah menjadi suara kepentingan

Editor: Admin


Oleh: Bishop Dikson Panjaitan

Polemik ceramah Jusuf Kalla telah memicu reaksi cepat dari berbagai pihak, termasuk Ketua Umum PGI Jacky Manuputty. Langkah menemui langsung pak. jusuf Kalla dikediamannya, memberi klarifikasi, hingga aktif menyampaikan pernyataan di ruang publik menunjukkan adanya keseriusan dalam merespons isu tersebut. Apakah Pdt Jacky Manuputty tidak menjaga perasaan umat kristen di seluruh nusantara ini? Kenapa harus menggadaikan jabatan bahkan terkesan melacurkan diri dalam hal ini?

Namun di balik respons yang cepat dan terbuka itu, publik tidak bisa mengabaikan satu pertanyaan mendasar: mengapa ketegasan seperti ini tidak selalu terlihat ketika umat menghadapi tekanan nyata?

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa kasus-kasus yang menyentuh langsung kehidupan gereja bukanlah hal baru. Penutupan rumah ibadah, intimidasi terhadap jemaat, hingga tindakan kekerasan telah berulang terjadi di berbagai tempat. Dalam situasi seperti itu, respons yang muncul seringkali terbatas pada pernyataan formal—cukup untuk dicatat, tetapi tidak cukup kuat untuk dirasakan.

Kontras ini menjadi semakin jelas.

Ketika isu menyangkut figur nasional seperti Jusuf Kalla, respons hadir dengan cepat, terlihat, dan terdengar. Namun ketika umat sendiri menghadapi tekanan, suara yang muncul justru cenderung lebih pelan, lebih hati-hati, bahkan nyaris tidak terdengar di ruang publik. Ini bukan lagi sekadar soal gaya komunikasi. Ini menyentuh pada konsistensi sikap moral.

Sebagai pimpinan organisasi gereja nasional, Jacky Manuputty tidak hanya diharapkan mampu menjaga harmoni, tetapi juga berdiri tegas ketika keadilan dan kebebasan beribadah dipertaruhkan. Ketika suara hanya menguat pada isu tertentu, sementara melemah pada isu lain yang menyentuh langsung umat, maka wajar jika publik mulai mempertanyakan arah keberpihakan.

Lebih dari itu, yang dipertaruhkan bukan sekadar citra, melainkan kepercayaan.

Umat tidak hanya membutuhkan pernyataan—mereka membutuhkan kehadiran yang nyata, suara yang konsisten, dan keberanian yang tidak selektif.

Jika keberanian dapat ditunjukkan dalam merespons satu polemik, maka tidak ada alasan untuk tidak menunjukkannya—bahkan dengan intensitas yang lebih besar—ketika menyangkut penderitaan umat sendiri.

Pada titik ini, diam atau sikap yang terlalu berhati-hati tidak lagi terbaca sebagai netralitas, melainkan dapat dimaknai sebagai jarak.

Dan ketika jarak itu semakin terasa, maka yang muncul bukan lagi sekadar kritik, melainkan pertanyaan yang lebih dalam:

untuk siapa sebenarnya suara itu paling lantang disuarakan?

Share:
Komentar

Berita Terkini

 
Desain: indotema.com